“Nusa Tenggara Timur begitu hebat dan luar biasa. Tapi kita ini tidak ada produk. Kita memiliki semuanya, tetapi kita tidak tertarik untuk membuatnya. Itu kita punya kelemahan. Karena itu bicara tentang pariwisata, manusianya dibangun, alamnya dibangun, ekonomi dan sosialnya dibangun. Jadi kita siapkan, di pasar jangan sampai yang dijual itu lebih banyak produk dari luar,” ujarnya.
Gubernur Laiskodat juga meminta dinas terkait juga untuk mengecek kodisi di lapangan seperti pasar. Guna mengetahui seberapa besar ketergantungan terhadap produk luar.
Sambung dia, saat ini harus mengubah cara pikir, karena, melayani publik adalah memahami apa yang kurang dan lebih di masyarakat, apa yang tumbuh di masyarakat tetapi tidak mampu kita tingkatkan.
Terkait wisata Holistik, Gubernur VBL menyampaikan terima kasih kepada Keuskupan Ruteng yang telah mengusung tema tersebut sebagai spirit pariwisata.
“Sampaikan kepada Monsinyur (Uskup Ruteng, Siprianus Hormat), bahwa gereja khususnya di Kesukupan Ruteng yang membuat tema pariwisata holistik itu luas biasa. Karena apa yang disampaikan oleh Ketua TP PKK Kabupaten Manggarai, narasi-narasi seperti itu saya inginkan itu untuk diberbanyak, diceritakan dengan baik sehingga orang menganggap itu sesuatu yang luar biasa,” katanya.
Ia mengatakan bahwa hidup tanpa narasi itu mati. Itulah sebenarnya hakekat hidup kita, membangun narasi-narasi yang mebuat kebanggan setiap manusia.