Anak keempat segera pulang kerumah, mengambil parang dan kembali lagi ke lokasi buah kelapa tadi jatuh. Dengan cekatan ia membuka buah kelapanya dan segera memberikannya kepada seorang kakek tua yang sedang duduk tak jauh dari tempat keempat sahabat tadi bermain.
Dari kisah keempat sahabat di atas, kita belajar tentang berbagai kecerdasan yang ada pada seorang manusia. Anak pertama memiliki kecerdasan intelektual. Ia memiliki pengetahuan lebih luas yang tidak dimiliki teman-temannya yang lain. Anak kedua memiliki kecerdasan finansial. Anak ketiga memiliki kecerdasan moral. Sedangkan anak keempat memiliki kecerdasan sosial.
Sayangnya, banyak orang tua saat ini (termasuk orang tua yang bermukim di NTT) lebih mengedepankan kecerdasan intelektual. Kemampuan akademik anak selalu jadi prioritas. Sang anak didaftarkan mengikuti berbagai kursus (les). Mulai dari les matematika, les bahasa inggris, les mata pelajaran, dan berbagai kegiatan tambahan lainnya. Padahal anak perlu juga dibekali dengan kecerdasan lain yaitu kecerdasan finansial, kecerdasan moral, dan kecerdasan sosial. Figur almarhum B.J. Habibie merupakan salah satu sosok yang tepat sebagai teladan bagi generasi muda bahwa “cerdas” itu harus seimbang.
Pejuang Data Vs Pengemis Data
Almarhum B.J. Habibie punya kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan negeri ini. Perannya dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) patut diapresiasi oleh generasi saat ini dan juga generasi masa depan. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa setiap warga negara punya peranan yang berbeda dalam membangun negeri.
Sekecil apapun peran yang diemban, kita harus tetap memberi kontribusi positif demi eksistensi bangsa ini. Hal tersebut pernah disampaikan oleh almarhumah Marselina Irene Goetha (1966-2019). Beliau adalah sosok insan statistik di Nusa Tenggara Timur dengan semangat dan dedikasi tinggi dalam memajukan negeri ini melalui data berkualitas. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di dunia (9/8/2019), tugas beliau sehari-harinya adalah sebagai Kepala BPS Kota Kupang.
Semasa hidupnya, dalam berbagai kesempatan beliau selalu menyatakan bahwa menjadi penyelenggara statistik adalah tugas mulia dan perlu dilakukan secara profesional. Rangkaian kegiatan dari awal hingga akhirnya data dirilis kepada publik harus sesuai prosedur yang berlaku.
Lembaga statistik (BPS) adalah pejuang data bukan pengemis data. Artinya, data yang diperoleh benar-benar diperjuangkan. Insan statistik berperan bagi negeri ini melalui data berkualitas yang dihasilkan. Berkualitas disini berarti data kuesioner isiannya lengkap sesuai konsep definisi serta tepat jadwal pelaksanaannya.
Komentar