Pemenuhan energi tersebut lanjutnya ditopang oleh beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan bahan bakar minyak yang secara biaya pokok produksi lebih tinggi dibanding nilai jual ke pelanggan.
“Biaya produksi listrik di Pulau Flores itu sekitar Rp. 2000 per kwh (kilo watt hours) sedangkan biaya yang dibebankan kepada masyarakat untuk pelanggan rumah tangga 1300 VA sebesar Rp 1.444 per kwh, artinya ada selisih yang harus ditanggung oleh negara melalui subsidi energi,” ujar Dede.
Lebih lanjut Dede mengatakan, melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2021-2030, PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditugaskan untuk menyiapkan suplai energi yang cukup dan andal secara operasional, terlebih PLN ditargetkan menyiapkan energi yang ramah lingkungan guna mendukung tercapainya Net Zero Emission (NZE) tahun 2060.
“Ada potensi energi murah dan ramah lingkungan yang cukup menjanjikan di wilayah Poco Leok, sehingga perlunya langkah strategis dan dukungan dari para stakeholder di lokasi pembangunan, agar tercapai kesamaan pandangan dan tujuan, tentunya potensi ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama,” lanjutnya.
Pada perjalanannya, PLN menyadari proses merealisasikan cita-cita besar ini menghadapi tantangan yang tidak ringan, baik pada sisi teknis maupun non teknis, hal itu di akuinya dikarenakan adanya perbedaan pemahaman akibat tidak tersampaikannya informasi secara utuh.