Dalam materinya yosep ngedot menjelaskan menurut adat, Tarian tiba meka hanya pemaka dan serebandang. Pemaka adalah gerak tari yang diawali oleh penari putra dengan tujuan mengusir atau menghalau roh jahat yang dapat mengganggu atau menghalangi kedatangan para tamu serta terkandung makna lainnya, yaitu memohon perlindungan dari TYME sebagai pemilik kehidupan. Sedangkan serebandang yaitu gerakan tari.
“Pemaka itu bukan orang sembarangan, tetapi orang yang memiliki kekuatan, karena tugasnya berat” imbuhnya.
Lebih lanjut Dia menjelaskan bahwa untuk menjadi pemakaian dibutuhkan orang khusus. Orang yang mempunyai kekuatan. Tarian Tiba meka juga kata Dia menurut adat hanya untuk dua peristiwa yaitu sebelum perang dan menerima tamu-tamu terhormat.
“Tarian tiba meka juga menurut adat, hanya untuk dua peristiwa penting, yaitu sebelum perang dan untuk menerima tamu-tamu terhormat” katanya.
Yovita Erni Jem pada materinya memaparkan bahwa tarian tiba meka merupakan adat kebiasaan menerima tamu orang Manggarai yang yang divisualisasikan dalam gerakan.
Dai menambahkan tarian memiliki 4 unsur dalam tari yaitu, Ruang, waktu, tenaga, gerak dan musik pengiring. Sedangkan tari menurut koreografinya dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu tari tinggal, tari duet/berpasangan, tari kelompok dan tari kolosal atau tari masal.
“ada empat unsur dasar tari yaitu, Ruang, waktu, tenaga, gerak dan musik pengiring. Sedangakan menurut koreografinya tarian dibagi menjadi empat yaitu tari tunggal, tari duet atau berpasangan, tari kelompok dan tari kolosal atau tari masal” Ungkap Erni.
Sementara itu Dr. Inosensius Sutam menjelaskan budaya orang manggarai saat ini sudah ada pergeseran nilai. Kesakralannya sudah mulai luntur. Ini dikarenakan konten yang disajikan dasar pijaknya tidak jelas, tidak mampu menarasikan maksud dan tujuan.
“budaya orang Manggarai saat ini banyak yang sudah mengalami pergeseran, bahkan kesakralannya mulai luntur, itu karena memformat sesuatu untuk menjadi baru, tetapi tidak mempertahankan nilainya” ungkap Romo Ino.
Untuk itu Dia menyarankan beberapa hal yang perlu untuk dilakukan agar nilai-nilai budaya tersebut tetap dipertahankan. Seperti pertobatan budaya, memformat kembali sesuai dengan aslinya. Sehingga kata Imam Projo ini, sekalipun salah satu budaya misalnya tari Tiba Meka itu ada penambahan gerakan tetapi keasliannya masih dipertahankan.