Cinta Yang Pergi Begitu Pagi

Oleh: Venansia Kurniati Mangkut

Di mana pun kau ditempatkan semesta dan nasib saat ini
Jangan lupa kita yang pernah sebentar bernapas bersama. Jangan sibuk  mencariku sebab aku tak pernah pergi tak juga hilang.
Aku masih di hatimu , meski tidak di sampingmu. Kaupun begitu.
Baik-baik dirimu , hiduplah dengan bahagia.

Aku mengenangmu , sebagai patahku yang parah dan dalam .
Doakan aku diremuknya jiwaku sebab perpisahan kita datangnya terlalu pagi.
Senja itu pertemuan kita di kotamu , kota yang dijuluki kota seribu gereja itu . Pertemuan yang dituntun semesta juga maumu , kita bertemu di gua Ave Maria , yang kuakui padamu , bila pernah kudatangi tempat ini dengan seorang dari masa laluku , wanita yang pernah membuatku mengerti bila senja di kotamu lebih dingin dari pada kesendirian.

Pertemuan kita  sama sekali tak mengisyaratkan perpisahan akan terjadi sedemikian cepatnya. Semesta tak juga memberi tanda meski sesungguhnya kabut menaungi kota memang cukup mengerikan kala itu . Tapi itu tak pernah sampai ke hatiku bila kita yang hanya sebentar lalu menguap tanpa sisa , bahkan canda kita sekalipun tak dapat menahan waktu.

Kau mengajakku duduk di atas rerumputan , kita duduk sebelah menyebelah. Di tempat kita bertemu , di tempat engkau duduk , semua bagai kembalikanku pada masa di mana wanita dari kota yang sama denganmu pernah membuat hidupku begitu hidup dan selalu ingin hidup sekian lama dalam hidupku.

Wajahmu kutatap pertama kali , di depan arca bunda Maria yang tegak berdiri di depan kita hingga aku merasa kita begitu kecil , tak punya arti. Wajahmu begitu biasa , hanya cara bicaramu entah mengapa begitu sampai ke dalam hatiku tanpa sebab lain selain aku begitu cepat jatuh pada dua bola matamu yang juga terlalu jujur akui ada sesak yang meminta kau akui di dalam sana , meski sungguh kita baru sebentar. Baru sebelas menit.

Angin menyapu rambutmu yang sebahu , aku tahu tak pantas di hatimu bila tanganku mengibas helai rambut yang meminta diri terus di pipimu. Kau sungguh sederhana . Biasa dan begitu biasa. Tetapi mengapa kau terlalu jauh masuk ke dalam hatiku.

“ Kakak penyanyi kah?” tanya mu tanpa  basa -basi. Kau terlalu jujur bertanya hingga serasa mengigit kepercayaan diriku.
Kau bertanya entah karena begitu ingin sekali tahu atau sekedar untuk memastikan keyakinanmu . Ku jawab itu dengan senyuman dan aku tahu bagaimana kau menafsirkan itu.

“ Nyanyikan satu lagu saja untukku “ dari nada bicaramu aku tahu kau tidak sungguh – sungguh ingin mendengarkanku bernyanyi . Kau barangkali hanya sedang mengulur waktu agar kita semakin lama melihat senja merenta bersama atau itu hanya pikiranku yang terlampau kotor.

“ Aku tahu satu lagu , tapi aku tak ingin menyanyikannya untukmu” aku menggodamu dengan kata-kata yang aku sendiri terkejut setelah mengatakannya. Aku melihat kau tertunduk. Memastikan hatimu baik-baik saja setelah mendengar kata-kata ku tadi.
Dengan sendu kau menjawab “ Tentu saja, karena lagu itu memang bukan untukku”

Cepat-cepat kualihkan pembicaraan , agar kau tak terlampau larut dalam kata yang begitu spontan kuucapkan . Kata – kata itu barangkali seperti belati bagimu , kulihat itu dari matamu. Ini pertemuan kita yang pertama.

Kulirik jam tanganku, kurang seperempat jam empat sore. Namun kota ini membuatnya seolah sudah hampir gelap. Setelah bertemu denganmu aku harus meneruskan perjalananku kembali ke kotaku. Entah kapan waktu akan membuat kita bertemu kembali, kupercayakan harapan itu pada langit dan bumi juga pada hatimu.

“ Setelah ini , aku tak akan menghilang. Percayalah “ aku berkata seolah sedang bernazar. Ataukah aku sedang mengada-ada? Entahlah.
“ Kalaupun hilang , aku tak akan mencari “ jawabmu . Serasa begitu dingin.
“ Aku juga tidak berharap engkau mencariku “ sungguh ini adalah kata-kata yang tidak ingin aku ucapkan namun aku merasa harus menjaga  harga diriku sedang terluka karena ucapanmu .

Kita kembali bercerita , sedang senja semakin menua. Lampu kota satu per satu dinyalakan. Sebelum perpisahan kita saat itu , kita berdua berdoa di depan arca Bunda Maria , aku ingin sekali tahu isi doamu , barangkali kau hendak meminta kepada Bunda agar aku tetap di sini dengan mu atau barangkali  kau meminta agar waktu berhenti sejenak hingga aku adalah milikmu dan kaupun milikku , meski sebentar. Aku sungguh tak sedang berdoa. Aku harap kau tidak.

Aku lalu  pamit padamu , tetapi tidak pada rasaku. Entah mengapa rasa itu seakan berkelebat dengan cepat tanpa memberiku kesempatan menimbang dengan akal sehatku. Aku kembali pulang . Aku harus pulang. Kembali kepada kota dan wanitaku yang sedang menungguku dan kau melanjutkan hidupmu namun semoga kita kembali bertemu.

Kulihat matamu kala kujabat erat tanganmu untuk perpisahan kita . Di sana ada sepotong luka , yang coba kau sembuhkan sendiri setelah aku pergi.

Seperti inikah rasanya cinta yang cepat melesat ? Mengapa tak sedikit memberi ruang agar hatiku bisa kusepadankan dengan akalku , untuk tak ada siapapun diantara kita yang akan  membawa pulang lara.
Aku bersalah. Aku tahu itu.

**
Malam itu aku kembali ke kota ku , ke kota Ende . Kembali pada rengkuhan wanita yang begitu mencintaiku , tetapi yang sering aku ragukan hatinya untukku karena akupun masih sering meragukan hatiku. Tetapi setengah jalan sudah kulalui dengannya. Sebuah rencana telah terkatakan dengan pasti padanya oleh sadarku sebelum aku datang ke kota Ruteng dan bertemu denganmu.

Sebuah pesan masuk kala aku mengaso sejenak mengisi perutku di sebuah rumah makan di kota Bajawa , sebelum aku melanjutkan perjalananku.
“ Terima kasih untuk pertemuan kita tadi , terima kasih kita telah bertemu. Bila menghilang , aku tak akan mencari. Namun kuakui aku telah jatuh sekaligus patah karena cinta kepadamu yang telah dicintai dia yang lain. Hati-hati. Jaga dirimu baik-baik”.

Demi pesan yang sedemikian melukai hatiku ,aku tak percaya kau begitu jujur mengakuinya , meski matamu memang lebih dulu mengatakannya padaku.  Aku mencoba menghubungimu , ada sebuah desakan dalam hatiku untuk menunjukkan kepadamu bila aku tak perlu kau cari karena aku tak sedikitpun hendak mengambil jarak dari kita yang diam-diam telah damai di satu bagian di dalam sana. Ya . Di hati.

Terdengar suaramu dari seberang. Seperti aku menemukan sebuah oase dalam gersang sepersekian waktuku , sedang perpisahan baru terjadi sembilan jam yang lalu. Kita bicara begitu banyak , namun tak kusangka itu terakhir kalinya kita bicara .

Lambat laun waktu melerai kita , aku tahu , ada tempat yang terlanjur kau isi di sana , di hatimupun aku yakin begitu. Hanya kau sengaja pergi agar kita tak perlu melukai satu sama lain.

“ Sayang “ wanita berparas manis , mengejutkan ku dari pencarian hatiku atas hilangmu yang tiba – tiba. Sekaligus aku dikejutkan oleh rasa bersalahku padanya sebab telah menyimpanmu diam-diam di hatiku .

Namun semakin hari , sekian malam , sepanjang waktu kau semakin menggetarkan nelangsah jiwaku , ribuan puisi kutulis sebab retak hatiku. Namun aku tak punya kuasa mengembalikanmu untukku , karena hatikupun telah dimiliki wanita yang lain.

Kau memang tak pernah datang mencariku yang memang tak pernah hilang. Seperti katamu senja itu di kotamu. Kau memang tak pernah mencariku karena di hatimu kau telah yakin bila aku telah ditemukan oleh sebuah cinta terbaik untukku, di matamu .Kau memang tak pernah mencariku meski sekedar untuk tahu apa aku baik-baik saja.

Merindumu sungguh menyiksa seluruh sanggupku bernapas. Entah berapa kali kudoakan kedatanganmu mencariku , tapi waktu dan kesepian semakin mempertegas pergimu. Kau tak datang , menoleh pun tidak lagi. Begitukah rasanya cinta sesaat yang jatuhnya terlalu dalam ? Kau jawabannya. Kau pematah paling parah hatiku.

Lalu kunyanyikan lagu yang sempat tak pernah mau kunyanyikan untukmu . Kunyanyikan dalam sesak dadaku antara melepas cintamu atau melupakan diriku sendiri.

Untukmu kubuatkan lagu dari puisiku yang paling perih , entah di manapun kau kini , selupa-lupanya kah kau padaku , sebahagia -bahagianya kau saat ini , ingatlah ini , bagi waktu bisa jadi kau hanya sebentar tetapi bagiku kau adalah gelisah terpanjang di hidupku. Terima kasih kita pernah bertemu di kotamu , yang kubawa serta kenangannya kembali ke kotaku.

Kau tak akan mencariku karena aku pun tak pernah hilang.
Semoga waktu mempertemukan kita lagi. Meski tak lagi untuk semeriah gelak tawa yang kemarin .

Lewat semilir angin , di pinggir Pantai Nangalala , ketika malam turun dengan rinai hujannya ramai , kuteriakan sesalku pada lautan yang luas di hadapanku , tentangmu yang datang dan pergi begitu cepat , tentangmu yang cintanya begitu membekas, tentangmu yang tak pernah mau aku lupa . Kau ada di mana ?

Lautan seakan mengerti, debur ombaknya pecahkan hati yang masih merindu pada kau yang perih, kapan lagi kita kembali ?
Tak akan lagi, barangkali.

Jangan mencari
Aku tak pernah pergi.

Komentar