Lebih lanjut Dia mengatakan upaya kita untuk memuliakan Tuhan dengan perayaan natal ini dilaksanakan, bukan hanya membangun kehidupan yang harmonis antara umat manusia tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga dan merawat keimanan kita, kita percaya, kita yakin bekerja dengan penuh keimanan, pastilah membawa keselamatan, dan keberkaan bagi hidup kita.
“bersamaan dengan perayaan natal ini kita memasuki tahun yang baru, ada semangat baru, yang terbungkus dengan seluruh keimanan kita secara penuh, ada semangat kerja baru yang kita bungkus dengan keimanan, itulah kenapa perayaan natal hari ini kita laksanakan bersama-sama . Semangat natal menggerakan kita untuk bekerja lebih produktif dengan lebih bermartabat demi mewujudkan cita-cita bersama, untuk diri sendiri, institusi yang kita cintai ini, sekaligus berkontribusi langsung kapada bangsa dan negara, khususnya Kabupaten Manggarai yang kita cintai ini. Upaya kita untuk memuliakan Tuhan dengan perayaan natal ini, dilaksanakan bukan hanya membangun keharmonisan antara umat manusia tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga dan merawat keimanan kita, kita percaya, kita yakin bekerja dengan penuh keimanan, pastilah membawa keselamatan, dan keberkaan bagi hidup kita dan bagi kita semua, semoga dengan perayaan natal ini, semua merasakan kasih Tuhan, yang selalu menyertai hidup kita”, katanya.
Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Pr dalam Kotbahnya mengatakan BRI diibaratkan seperti “Manjatoya” (bahasa Italia) tempat makan yang bisa memberikan pengharapan bagi banyak orang. Sama seperti palungan dimana yesus dilahirkan, palungan sebagai tempat makan ternak sebab ia butuh makanan, agar Dia hidup. Sang bayi yesus yang di palungan itu adalah kata Mgr. Siprianus adalah makanan spritual kehidupan bagi kita. spiritualitas kandang juga berkaitan dengan spiritualitas salib dalam agama kita.
“Antara palungan dan salib itulah semua menjadi hidup dan selamat, yesus alami kehidupannya di dunia dengan kesederhanaan,kemiskinan, yang mengakhiri hidupnya dalam dunia ini, dalam kehinaan salib. Namun justru kisah-kisah kesederhanaan , kisah-kisah kehinaan itulah yang mampu membuat kita semua hidup kita semua diselamatkan, demi hidup kita dia merendahkan diri dan dikandang , untuk kemudian ditinggikan dalam kehinaan salib, sungguh rahmat Tuhan terlau luar biasa, bagi kita manusia” , ungkap Mgr. Siprianus.
Mgr. Siprianus mengambil kisah kelahiran Yesus di Bethlehem sebagai rujukan agar semua terlebih khusus BRI kembali mengingat asal usulnya, cikal bakalnya. Karena itu Mgr. Sipri mengajak semua untuk memaknai kisah bethlehem dan kisah-kisah keseharian kita, hari-hari ini, beberapa hari sebelum natal, bethlehem tempat kelahiran Tuhan itu adalah kisah kehidupan.
“Saya mengajak kita semua untuk memaknai kisah bethlehem dan kisah-kisah keseharian kita, hari-hari ini, beberapa hari sebelum natal, bethlehem tempat kelahiran Tuhan itu adalah kisah kehidupan”, ungkap Mgr. Sipri.
Adapun beberapa pesan yang disampaikan Mgr. Siprianus Hormat di antaranya :
1.Ketika natal disetiap 25 Desember, adalah ajakan ke Bethlehem ajakan itu, bisa menjadi inspirasi untuk kembali ke sejarah awal, kembali ke cikal bakalmu, seperti BRI yang berawal dari Purwokerto pada 16 Desember 1895, atas inspirasi Raden Bei Aria Wirjaatmadja.