“setelah aki kapal mati, saya (Jumali) sempat kontak ke basarnas KSDP surabaya untuk minta bantuan karena mesin kapal sudah mati, jawaban dari basarnas surabaya nanti akan dibawakan aki kapal, setelah itu semua alat komunikasi putus dan tidak bisa komunikasi lagi dengan pihak basarnas”, Ungkap Jumali.
Lebih lanjut, Jumali menceritakan, setelah mesin sudah tidak berfungsi lagi saya beserta 2 orang teman saya, Ali dan Junaidi melepaskan Jangkar. Selama 4 (empat) hari kami sempat menunggunakan Jangkar, Karena derasnya hantaman ombak jangkar kapal tersebut putus.

Junaidi, salah satu awak kapal kepada media ini, kami berusaha menyelamatkan diri dengan peralatan seadanya. Sempat terkatung-katung di laut selama 16 (enam belas) hari
“Enam belas hari kami bertahan hidup di tengah terpaan gelombang ganas. Kelaparan dan haus akibat stok makanan kami habis,” ujar Junaidi.
Menurut Jumali, kami diselamatkan oleh Muslihin Haji Ali, seorang nelayan ikan asal Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Komentar